SEKILAS INFO
: - Minggu, 17-10-2021
  • 1 tahun yang lalu / Ini adalah artikel sekilas info Warta NU Bagor Nganjuk, Pantau terus untuk info selengkapnya
  • 1 tahun yang lalu / Temukan Informasi mengenai NU Bagor Disini
  • 1 tahun yang lalu / Selamat datang di Website WARTA NU BAGOR NGANJUK
KORELASI ANTARA AL-QUR’AN DAN ILMU PENGETAHUAN

KORELASI ANTARA AL-QUR’AN DAN ILMU PENGETAHUAN Oleh Nurul Syalafiyah, M.Fil.I. (Sekretaris 3 PAC Muslimat NU Kec. Bagor / Dosen IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk)

Pada hakikatnya, membahas hubungan antara Al qur’an dan ilmu pengetahuan bukan dinilai dari banyak atau tidaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang dikandungnya, tetapi lebih pada adakah Al qur’an atau jiwa ayat-ayatnya menghalangi ilmu pengetahuan atau mendorongnya, karena kemajuan ilmu pengetahuantidak hanya diukur melalui sumbangan yang diberikan kepada masyarakay atau kumpulan ide dan metode yang dikembangkannya, tetapi juga pada sekumpulan ayat-ayat psikologis dan social yang diwujudkan, sehingga mempunyai pengaruh baik positif maupun negative terhadap kemajuan ilmu pengetahuan

Dalam Al qur’an ditemukan kata-kata “ilmu” dalam berbagai bentuknya yang terulang sebanyak 854 kali. Di samping itu banyak pula ayat-ayat Al qur’an yang menganjurkan untuk menggunakan akal pikiran, penalaran, dan sebagainya, sebagaimana dikemukakan oleh ayat-ayat yang menjelaskan hambatan kemajuan ilmu pengetahuan, antara lain :

  1. Angan-angan dan dugaan yang tak beralasan (Qs. Yunus:36)
  2. Bergegas-gegas dalam mengambil keputusan atau kesimpulan (Qs. Al Anbiya:37)
  3. Sikap angkuh (enggan untuk mencari atau menerima kebenaran, Qs. Al-A’raf:146)

Ayat-ayat semacam inilah yang mewujudkan iklim ilmu pengetahuan dan yang telah melahirkan pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan Islam dalam berbagai disiplin ilmu . “ Tiada yang lebih baik dituntun dari suatu kitab agama menyangkut bidang ilmu kecuali anjuran untuk berpikir, serta tidak menetapkan suatu ketetapan yang menghalangi umatnya untuk menggunakan akalnya atau membatasinya menambah pengetahuan selama dan di mana saja ia kehendaki”. Inilah korelasi pertama dan utama antara Al qur’an dan ilmu pengetahuan. [1]

Korelasi kedua dapat ditemukan pada isyarat-isyarat ilmiah yang tersebar dalam sekian banyak ayat Al qur’an yang berbicara tentang alam raya dan fenomenanya. Isyarat-isyarat tersebut sebagiannya telah diketahui oleh masyarakat Arab ketika itu. Namun, apa yang mereka ketahui itu masih sangat terbatas dalam perinciannya.

Selain isyarat ilmiah di atas, banyak isyarat lain yang juga sering diungkap oleh para ilmuwan dan mufassir, misalnya, dalam proses kejadian alam, Al qur’an menjelaskan bahwa langit dan bumi merupakan suatu gumpalan kemudian dipisahkan. Meski Al qur’an tidak menjelaskan bagaimana terjadinya pemisahan itu. Namun, apa yang dikemukakan tentang keterpaduan alam dan kemudian terjadi pemisahan dibenarkan oleh observasi pada ilmuwan. Misalnya, temuan Edwin P.Hubble peneliti di Observatorium Mount Wilson California, melalui teropong bintang pada tahun 1925 menunjukkan adanya pemuaian alam semesta.[1]

Relevansi tafsir ilmi dalam dunia modern didudukan secara proporsional dalam pengertian bahwa Al qur’an adalah kitab yang diturunkan untuk menjadi petunjuk dan penuntun bagi kehidupan manusia baik spiritual maupun material. Sedangkan kehidupan material hanya bisa dikembangkan melalui ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, relevansi tafsir ilmi dalam konteks kekinian bukanlah mencocokkan ilmu pengetahuan dengan ayat-ayat Al qur’an, melainkan bagaimana kita dapat mewujudkan iklim ilmu pengetahuan dan memahami ayat-ayat Al qur’an.

Oleh karena itu, menurut al-Zindani membedakan antara kemu’jizatan ilmiah Al qur’an dengan penafisran Al qur’an secara ilmiah. Menurutnya, kemukjizatan secara ilmiah Al qur’an adalah pemberitaan Al qur’an tentang hakikat yang dibenarkan oleh ilmu eksperimental saat ini dan ketidakmungkinan orang-orang yang hidup ketika turun Al qur’an mengetahuinya, sedangkan penafsiran Al qur’an secara ilmiah adalah kajian-kajian Al qur’an dengan validitas yang akurat dari ilmu pengetahuan alam.

Sementara menurut Quraish Shihab membahas hubungan Al qur’an dan ilmu pengetahuan bukan dinilai dengan banyaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang dimuat, bukan pula dengan menunjukkan kebenaran teori-teori ilmiah. Tetapi hendaknya diletakkan pada proporsi yang lebih tepat sesuai dengan kemurnian dan kesucian Al qur’an dan sesuai pula dengan logika ilmu pengetahuan itu sendiri.

REFERENSI

Almanar, M. Abdul. Mimbar Ilmiah. Jakarta : Universitas Islam Djakarta, 2007.

Saleh, Sujiati Zubadi. Jurnal Tsaqafah. Ponorogo : Darussalam Press, 2011.

Shihab, M. Quraish. Membumikan Al qur’an. Bandung, Mizan, 1994.

TINGGALKAN KOMENTAR

Data ORGANISANI

WARTA NU BAGOR NGANJUK



JL. Tamanan
KEC. Bagor
KAB. Nganjuk
PROV. Jawa Timur
KODE POS 64461
TELEPON 085238439337
FAX -
EMAIL wartanubagornganjuk@gmail.com

Maps Organisasi