SEKILAS INFO
: - Minggu, 17-10-2021
  • 1 tahun yang lalu / Ini adalah artikel sekilas info Warta NU Bagor Nganjuk, Pantau terus untuk info selengkapnya
  • 1 tahun yang lalu / Temukan Informasi mengenai NU Bagor Disini
  • 1 tahun yang lalu / Selamat datang di Website WARTA NU BAGOR NGANJUK
Peta Gerakan Fundamentalisme Islam di Indonesia

Oleh: BUDI HARIANTO, S.Hum.,M.Fil.I.

  1. Pengantar

Semua agama menyeru pemeluknya untuk menyebarkan kasih sayang kepada seluruh umat manusia (rahmah li al-‘Alamin). Agama selalu  yang menuntut pemeluknya agar selalu hadir dalam ruang yang dapat mencipta kerjasama baik antar individu maupun kelompok bahkan terhadap lingkungan sekitarnya. Agama disamping nilai-nilainya menghendaki adanya sikap toleran, juga tidak memaksa manusia untuk memeluknya. Al-Qur’an dengan jelas menyebutkan bahwa “Tidak ada paksaan dalam agama

Akan tetapi dalam realitas kehidupan konkrit sebagian pemeluk menampilkan agama dengan wujud yang menakutkan baik dalam kehidupan politik, keamanan, stabilitas kehidupan dunia. Tidak jarang agama seakan menjadi ancaman bagi eksistensi umat lain dan tidak jarang mengorbankan alam sekitarnya demi kepentingan kelompok berkedok agama. Agama sebagai alat legitimasi masih menyisakan pro dan kontra hingga saat ini, khususnya ketika dihubungkan dengan politik dan ketatanegaraan. Perbedaan pandangan ini berkisar seputar ada tidaknya sebuah sistem kenegaraan tertentu dalam ajaran Islam

Tindakan-tindakan fundamentalisme tersebut tentu saja dilatari motif dengan kemungkinan besar menggunakan argumentasi yang canggih meski juga dapat disebut mengada-ada. Semisal alasan demi menjaga agama, untuk memurnikan ajaran bahkan mungkin juga demi membentengi internal agama sendiri dari dunia luar yang sudah tidak sejalan dengan teks suci agama. Atau sebagaiman alasan sebagaian sarjana yang menyebutkan adanya perubahan sosial dalam bentuk urbanisasi, media cetak dan elektronik serta alat komunikasi.

  1. Sejarah Awal Gerakan Fundamentalisme Islam

Keyakinan dalam upaya menjaga dan mempertahankan ajaran agama menjadi suatu keniscayaan dan karenanya bermakna membentengi keyakinan mereka agar selalu selaras dengan doktrin ajaran agama. Sehingga golongan ini hampir selalu mengidentikkan diri dengan kelompok yang dapat disebut sebagai paling taat terhadap ajaran pokok agama dan pembelaannya terhadap berbagai macam kritik terhadapnya. Sehingga banyak ciri umum atau karakteristik yang melekat atas individu maupun kelompok berhaluan fundamentalisme bagi agama-agama samawi di dunia termasuk Islam. Mereka adalah kelompok yang tertutup¸ intoleran, keras, berorientasi kemasa lalu sebab dianggap sebagai zaman keemasan yang niscaya dihadirkan kembali ke zaman kini

Selain intoleran, mereka cenderung terhadap kekerasan karena kuatnya obsesinya untuk mengubah orang lain dan lingkungannya sesuai dengan keyakinannya, yakni agar orang lain kembali kepada bentuk kehidupan awal Islam persis sebagimana praktek awalnya, yang mana hal ini sekaligus sebagai solusi pada masa kini terhadap internal umat beragama

Dengan ciri-ciri tersebut, fundamentalisme yang pada awalnya lahir di kalangan tradisi kristen Amerika Serikat kemudian jika digunakan diluar akar kesejerahannya, yang terlihat adalah sebuah makna baru bagi Islam yang juga dapat disebut fundamentalisme. Kelompok fumdamentalisme adalah mereka sebagaimana dalam tradisi Kristen awal yang memahami kitab suci (Bible) sebagai kebenaran mutlak sehingga tidak dibutuhkan lagi tafsir terhadap kejelasan  dan ketidak berubahan maksud atau maknanya.[1] Hal yang sama juga terjadi pada kelompok fundamentalisme Islam yang memahami wahyu secara literar yang diyakini sebagai satu-satunya sumber kebenaran mutlak disamping hadith Nabi. Klaim kebenaran tunggal satu-satunya juga menjadi ciri/karakter bagi kelompok fundamentalisme Islam

Jika dilihat dalam sejarahnya, karakteristik awal fundamentalisme Islam dapat ditemukan dalam dua kemungkinan besar. Pertama, akar fundamentalisme dalam Islam merujuk pada generasi awal Islam yaitu pada masa Nabi dan Sahabat yang dikenal dengan istilah al-Salaf al-Shalih. Dimana akar fundamentalisme pada masa ini dalam pola atau bentuk pelaksanaan agama yang berpegang pada prinsip dasar agama Islam mazhab salaf. Dengan kata lain, pelaksanaan keagamaan masa salaf adalah praktek keagamaan yang sederhana, sebab pada masa itu prakteknya langsung merujuk sepenuhnya kepada Nabi, Sahabat dan para Tabi’in. Tentu saja praktek sederhana pada masa itu tidak terkait kuat dengan problem kondisi sosial masyarakat yang relatif sederhana jika dibanding dengan problem umat berikutnya yang sangat mengglobal.    

Kedua, akar fundamentalisme terlihat dari adanya kaitan Substansi dengan gerakan kelompok Khawarij yang muncul pada akhir pemerintahan Ali Ibn Abi Thalib. Dimana pada awalnya mereka adalah pendukung setia Ali Ibn Abi Thalib yang memiliki prinsip radikal dan ekstrim, akhirnya menyatakan diri keluar dari barisan Ali setelah selesainya keputusan sengketa dengan kelompok Muawaiyah melalui jalan arbitrase.[1] Dengan keputusan atau jalan arbitrase, Alipun telah dianggap tidak lagi mengikuti apa yang ada dalam al-Qur’an

Sikap radikal Khawarij tersebut didasari terhadap pandangan teologis dalam salah satu ayat al-Qur’an surat al-Maidah ayat 44 yang berbunyi “waman lam yahkum bima anzalallah faulaika hum al-kafirun” (siapa yang tidak menentukan hukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka adalah kafir). Dari pandangan teologis itu mereka kemudian membuat semboyan yang sangat populer “la hukma illa lillah (tidak ada hukum kecuali hukum Allah). Dengan pandangan tersebut mereka tidak segan menganggap individu atau kelompok lain dengan stigma kafir atau murtad. Sebab posisi murtad adalah bagi mereka yang telah kafir sehingga harus dibunuh

Disamping pandangannya yang radikal tersebut mereka (Khawarij) juga bersikap ekstrim dalam bidang politik. Mereka memandang orang lain yang berseberangan dengannnya dianggap musyrik dan boleh dibunuh. Maka kawasan yang aman dan harus dilindingi adalah wilayah yang disebut Dar al-Islam. Sedangkan kawasan lainnya disebut Dar al-Kufr atau Dar Harb, suatu wilayah yang harus diperangi atau wajib dihancurkan, sebab mereka dalam kawasan ini dianggap tidak lagi mengamalkan ajaran-ajaran agama (Islam). Pola pemahaman dan praksis gerakan Khawarij ini kemudian menjadi langgam bagi gerakan fundamentalisme Islam berikutnya

Fundamentalisme Islam dalam perkembangan berikutnya secara garis besar dapat dikelompokkan pula pada dua arus utama, pertama yaitu fundamentalisme Islam dengan merujuk pada model Salafi termasuk gerakan Wahhabisme (Sunni) yang mayoritas. Dalam model gerakan pertama ini banyak kalangan menyebut dengan kelompok salafi, sehingga dalam perjalanan gerakan ini menyerukan kembali pada tradisi salaf dari dunia Islam, yakni terhitung setelah 400 tahun dari masa Nabi. Dengan demikian salaf adalah periode dimana para ulama’ madzhab masuk dalam hitungan tahun tadi. Akan tetapi dalam perkembangannya tidak sedikit pula kelompok Fundamentalis Islam yang meski tidak masuk kategori pengikut ulama’ madzhab—sebagaimana Wahhabi—tetap diafirmasi dan dikategorikan sebagai kelompok salaf atau salafi.     

Model dalam kelompok  pertama Salafi, pertamakali dipelopori oleh Ibn Hambal pada abad ke IV H yang menentang pendekatan keislaman Mu’tazilah dan para rasionalis muslim lainnya pada waktu itu. Namun Ibn Hambal tidak masuk dari golongan fundamentalisme Islam era awal Karakternya kemudian dilanjutkan oleh Taqiy al-Din Ibn Taymiyyah (1263-1328) pada abad ke VII, dan Ibn Qayyim al-Jauziyya (1292-1350). Dalam rentang perjalanan berikutnya, gerakan ini kemudian di bakukan oleh Muhamma Ibn Abd Wahhab (1703-1792) pada abad ke XII H, kemudian orang-orang tersebut dikenal sebagai bapak kaum fundamentalisme Islam.[1] Dalam hal ini gerakan Salafi dengan jargonnya kembali kepada Islam murni seperti yang dipraktekkan Nabi, para Sahabat dan Tabi’in semakna dengan fundamentalisme Islam

Hal yang sama terjadi bagi fundamentalisme terhadap cara berpikir demikian, dimana realitas harus selalu ditundukkan oleh ajaran atau teks suci, atau dengan kata lain yang salah adalah realitas itu sendiri sedangkan yang selalu benar adalah teks suci agama. Sikap demikian dapat difahami sebagai reaksi atas kemajuan perdaban atau ilmu pengetahuan yang dicapai manusia disamping sikap apologis dalam usaha menghambat laju perbedaan dengan apa yang dimiliki maupun diyakini. Sikap semacam itu oleh Karen Armstrong tersebab tekanan situasi yang represif sehingga mengalami alienasi terhadap doktrin Islam yang yang pada dasarnya mengangkat martabat manusia dalam sejarahnya

Gerakan fundamentalisme dalam rentang waktu berikutnya terbentang di kawasan Timur Tengah. Diantara kelompok gerakan fundamentalisme Islam yang cukup dikenal luas antara lain seperti Ikhwan al-Muslimin di Mesir yang didirikan Hasan al-Banna (1906-1949) dan Sayyid Qutb (1906-1965), yang bagi Ihkwan keduanya dijadikan sebagai  ideolog fundamentalis dalam gerakan al-Jihad dengan doktrin al-Tafkir wa al-Hijrah, sedangkan di Pakistan gerakan fundamentalisme Islam di pelopori Abu A’la al-Maududi (11903-1979) dengan nama organisasinya Jama’at al-Islami.[1] Kelompok fundamentalisme Islam yang terakhir—dikenal luas umat Islam Indonesia selain masih banyak lagi yang lainnya —adalah Hizb al-Tahrir (HT) di Yordania yang digagas oleh Taqiy al-Din al-Nabhani, yang mengilhami lahirnya Hizb al-Tahrir Indonesia (HTI) dengan maraknya gerakan tuntutan penerapan syari’at Islam dalam bentuk sistem Khilafah Islam. Ringkasnya, gerakan fundamentalisme Islam tersebut meniscayakan terciptanya tatanan kehidupan sosial-masyarakat sesuai ajaran Islam, dimana formalisasi syari’at Islam terlembaga dalam bentuk negara Islam.         

Sedangkan pada arus kedua, fundamentalisme Islam merujuk pada Syi’ah kaitan dengan keberhasilan Revolusi Islam Iran tahun 1979, yang direpresentasikan kepada Imam Khamaini, atas kemenangannya terhadap Syah Iran. Dengan semangat mengembalikan sistem kenegaraan berdasar pada masa Islam awal dan para Khalifah al-Rasyidin, Khamaini dengan keras menolak sistem negara tiran yang tidak menerapkan sistem negara Islam. Dalam kasus tulisan Salman Rusydi, dengan emosional Khamaini menghadapinya dengan keras sebab tulisan tersebut dianggapnya sebagai bentuk penghinaan terhadap Islam, sehingga pada tanggal 14 Pebruari 1989 mengeluarkan fatwa halal darahnya Salman Rusydi karena ia telah menjadi orang dan karenanya harus di bunuh

C. Membaca Wajah Fundamentalisme di Indonesia

Secara Definisi operasional dalam Buku Ilusi Negara Islam menggunakan teori Islam di lihat dari dua sudut pandang, yaitu Islam Fundamentalisme (Transnasional atau garis keras) dan Islam moderat, masing-masing mempunyai ciri sebagai berikut [1]

  1. Islam Fundamentalisme (Transnasional atau garis keras) : Diklasifikasikan sebagai individu dan organisasi.
    • Individu Islam Fundamentalisme (Transnasional atau garis keras) adalah orang yang menganut pemutlakan atau absolutisme pemahaman agama; bersikap tidak toleran terhadap pandangan dan keyakinan yang berbeda; berperilaku atau menyetujui perilaku dan/atau mendorong orang lain atau pemerintah berperilaku memaksakan pandangannya sendiri kepada orang lain; memusuhi dan membenci orang lain karena berbeda pandangan; mendukung pelarangan oleh pemerintah dan/atau pihak lain atas keberadaan pemahaman dan keyakinan agama yang berbeda; membenarkan kekerasan terhadap orang lain yang berbeda pemahaman dan keyakinan tersebut; menolak Dasar Negara Pancasila sebagai landasan hidup bersama bangsa Indonesia; dan/atau menginginkan adanya Dasar Negara Islam, bentuk Negara Islam, atau pun Khilafah Islamiyah.
    • Organisasi Islam Fundamentalisme (Transnasional atau garis keras) adalah kelompok yang merupakan himpunan idividu-individu dengan karakteristik yang disebutkan di atas, ditambah dengan visi dan misi organisasi yang menunjukkan orientasi tidak toleran terhadap perbedaan,baik semua karakter ini ditunjukkan secara terbuka maupun tersembunyi.
  1. Islam Moderat: Diklasifikasikan sebagai individu dan organisasi.
    • Individu moderat adalah individu yang menerima dan menghargai pandangan dan keyakinan yang berbeda sebagai fitrah; tidak mau memaksakan kebenaran yang diyakininya kepada orang lain, baik secara langsung atau melalui pemerintah; menolak cara-cara kekerasan atas nama agama dalam bentuk apa pun; menolak berbagai bentuk pelarangan untuk menganut pandangan dan keyakinan yang berbeda sebagai bentuk kebebasan beragama yang dijamin oleh Konstitusi negara kita; menerima Dasar Negara Pancasila sebagai landasan hidup bersama dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai konsensus final dalam kehidupan berbangsa dan bernegera yang melindungi perbedaan dan keragamaan yang ada di tanah air.
    • Organisasi moderat adalah kelompok yang memiliki karakteristik seperti yang tercrmin dalam karakteritik individu moderat, ditambah dengan visi dan misi organisasi yang menerima Dasar Negara Pancasila sebagai landasan hidup bersama bangsa Indonesia dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai konsensus final dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurut buku tersebut secara terbuka menyebutkan adanya agenda tertentu dari kelompok yang disinyalir garis keras yaitu Hizbu Tahrir, Wahabbi, dan Ikhwanul Muslimin dan kelompok sejenisnya dengan berbagai fakta serta data hasil penelitian yang dimaksudkan untuk menyakinkan pembaca.[1] Jelasnya menentang penerapan syariat Islam dengan alasan bahwa jika Islam diterapkan sebagai konstitusi maka akan timbul disintegrasi bangsa dan menjustifikasi bahwa yang berobsesi terhadap penerapan syariat Islam adalah orang yang tidak memahami Islam secara menyeluruh.

Gerakan-gerakan Transnasional atau Fundamentalisme ini melahirkan gerakan-gerakan kekerasan di dunia Islam ataupun Wahabisasi global, penyebaran ideology, yang antara lain yaitu : al-Qaedah, Taliban, Jaringan Islam, DDII, LIPA, FUI, Laskar Jihad, MMI, KPPSI dan sebagainya melalui gerakan terselubung ini mereka berharap bisa menyebarkan ideologinya, karena kalau dilakukan secara terbuka, maka masyarakat yang mengetahui tentang sejarah pembentukan organisasi yang bersifat transnasional ini pasti akan menolak. Gerakan-gerakan ini banyak memberikan dana beasiswa, penyebaran dan penerjemahan buku-buku gagasan para tokoh gerakan transnasional, pendirian lembaga pendidikan, sosial dan budaya.

Penerapan syariat Islam sangat jelas bertentangan dengan konstitusi. Namun menurut mereka kelompok garis keras menemui celah untuk penerapan syariah yaitu melalui otonomi daerah. Artinya mereka berfikir bahwa sulit untuk penerapan Islam secara konstitusional maka ditempuhlah cara yang istilahnya “desa mengepung kota” yakni melalui formalisasi penerapan syariah di daerah-daerah hingga nanti ketika sebagian besar daerah telah menerapkan hukum Islam secara regional maka penerapan Islam secara nasional hanyalah menunggu waktu.[1] Penerapan Islam sebagai syariat sebagaimana disinyalir adalah agenda kelompok yang dicap garis keras, seperti HTI dengan “Selamatkan Indonesia dengan Syariah”, MMI dengan “Penegakan syariah memalui institusi Negara merupakan satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi kemelut bangsa”, Ada yang dengan tagline “Krisis multidimensi akan berakhir dengan diberlakukannya syariat Islam” atau ada yang dengan tagline “Islam adalah solusi”. Alasan-alasan kelompok tersebut tidaklah masuk akal idealisme mereka yang mengatakan bahwa agama Islam adalah agama yang sempurna sangatlah tidak realistis. Kerena umat beragama lain pun mengakui bahwa agamanyalah yang paling sempurna. Dan dianggap kelompok garis keras mengada-ada dengan alasan tersebut dengan dalih bahwa syariat Islam telah diterapkan di negeri ini secara berabad-abad.

Keberadaan gerakan-gerakan diatas merupakan konsekuensi berkembangnya paham Wahabi di negeri ini. Sebab sikap dan sifat kelompok garis keras di negeri ini sangat identik dengan gerakan yang terjadi di Timur Tengah. Kebanyakan mereka pemimpinnya adalah keturunan Arab atau setidaknya mereka pernah belajar di Timur Tengah yang kemudian kehilangan tradisi keberagamaannya (mungkin keberagamaan yang keIndonesiaan) dan berubah menjadi berhaluan Ikhwanul Muslimin atau Wahabisme. Gerakan pemberlakuan syariat Islam di daerah-daerah adalah suatu bentuk mengecilkan ketetapan Allah, mengecilkan keluasan rahmat Allah bahkan kebesaran Allah ke dalam kotak kecil perda syariah dan juga mengkritik negara-negara yang telah menerapkan syariat Islam dnegan mengatakan bahwa meskipun negara tersebut Islami akan tetapi degradasi moral, korupsi dan lain sebagainya tetap saja merajalela

D. Penutup

Banyak motif adanya mengapa fundamentalisme lahir dalam dinamika agama-agama Dunia. Istilah fundamentalisme agama terkait dengan agama Protestan Amerika dalam merespon beragai temuan atau faham yang berseberangan dengan teks suci agama, Bible. Upaya mengjaga agama agar tetap dalam posisinya bersih dari dunia luar menjadi suatu keniscayaan.

Begitu pula Islam dalam sejarahnya selalu mendapat perlakuan istimewa para pemeluknya dalam merawat kemurniannya dalam dari dirinya sendiri. Khawarij dan kelompok Sunni sebagaian kecil yang mewujud dalam gerakan Wahhabi menghendaki Islam terjaga orisinilitasnya dengan cara memberantas keyakinan yang dianggap telah menyimpang dari Islam murni. Dengan cara atau sikap intoleran, keras tanpa kenal kompromi, dalam mengubah orang lain dan lingkungan. Ikhwan al-Muslimin, Jama’ah al-Islami, HT adalah organisasi umat yang menginginkan Syari’ah Islam dapat diimplementasikan dalam sebuah wadah besar negara Islam, dengan mengacu pada pengalaman sistem Khilafah Islam

Begitu pula Syi’ah yang direpresentasikan oleh Imam Khamaini dengan kemauan kuatnya untuk mendirikan negara Islam dalam bentuk Khilafah Islam. Sebab sebagai jawaban atau solusi bagi umat Islam khusunya tidak ada lain selain selian Islam itu sendiri. fundamentalisme Islam seperti gerakan yang dimotori Khamaini adalah dengan terbentuknya negara Islam, dalam praksisnya sanagat keras terhadap orang lain yang tidak setuju atau melakukan serangan kriitik terhadapnya. Begitu pula di Indonesia dengan munculnya organisasi-organisasi Islam yang menginginkan NKRI menjadi negara Islam merupakan fenomena gerakan fundamentalisme Islam di Indonesia.

E. Daftar Pustaka

Al-Qur’an, Surah al-Baqarah, 2: 256.

Armstrong, Karen. Berperang Demi Tuhan, Fundamentalisme dalam Islam, Kristen dan Yahudi,  Jakarta: Serambi, 2001.

Esposito, John L. Ancaman Islam Mitos atau Realitas, Bandung: Mizan, 1994.

Hamdi, Ahmad Zainul. “Pertemuan antara Ulama Tradisionals dengan Islamis (Analisis Ideologi dan Gerakan)”, Makalah S-3—IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2012.

Harianto, Budi dan Nurul Syalafiyah. Khazanah Pemikiran Islam Kontemporer. Batu: Literasi    Nusantara, 2019.

Harianto, Budi. Membaca Wajah Fundamentalisme Islam di Indonesia di Indonesia, dalam Moderasi Islam: Deradikalisasi, Deideologisasi dan kontribusi untuk NKRI. Tulungagung: IAIN Tulungagung Press, 2017.

Hassan, Riffat. “Mempersoalkan Istilah Fundamentalisme Islam”, Ulumul Qur’an, Vol. IV, No. 3, Maret, 1993.

Ibrahim, Haidar. “Menelusuri Sejarah dan Makna Fundamentalisme”, dalam http://pcinu-mesir.tripod.com, asp 13 April, 2013. 

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, cet. III, 1990.

LibForAll Foundation. 2009. Ilusi Negara Islam; Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di     Indonesia. Jakarta : The Wahid Institut.

Machasin. Islam Dinamis Islam Harmonis, Lokalitas, Pluralisme, Terorisme, Yogyakarta: LkiS, 2011.

Mujiburrahman, Menakar Fenomena Fundamentalisme Islam”, Tashwirul Afkar, No. 13  .2002.

Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI-Press, jilid II, 1986.

Rumadi. Renungan Santri, Dari Jihad Hingga Kritik Wacana Agama, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006.

Watt, William Montgomery. Fundamentalisme Islam dan Modernitas, terjemah Kamal, Taufik Adnan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, cet. II, 2001.

TINGGALKAN KOMENTAR

Data ORGANISANI

WARTA NU BAGOR NGANJUK



JL. Tamanan
KEC. Bagor
KAB. Nganjuk
PROV. Jawa Timur
KODE POS 64461
TELEPON 085238439337
FAX -
EMAIL wartanubagornganjuk@gmail.com

Maps Organisasi